Sabtu, 14 April 2012

teori bermain


BERMAIN
1.   Stone[1]. ”....Bermain adalah media penting dalam  proses berpikir  dengan memberikan eksposur terhadap berbagai pengalaman yang memperkaya pemikiran anak-­anak (a). Melatih kemampuan menghadapi pengalaman dengan cara menciptakan situasi-situasi, model dan menguasai kenyataan melalui percobaan dan perencanaan (.b) Mengkonsolidasi kemahiran-kemahiran mental yang baru. c) Berperan mengembangkan pikiran abstrak. (e). Melatih kreatifitas (f). Mendorong cara memecahkan persoalan melalui penemuan (g). Berperan penting mengembangkan penjelasan atas sesuatu,  Anak-anak menguji coba konsep-konsep dan memperbaikinya sambil bermain. h).Dapat dipergunakan untuk menguji konsep-konsep dan memperbaikinya sambil bermain. (i).Pembelajaran probabilities, melalui perilaku yang diulang-ulang. (j) Adanya korelasi positif antara bermain dan daya ingat (k) Mendorong perkembangan bahasa (l) Meningkatkan kemahiran merencanakan, kemampuan-kemampuan akademik dan bersikap”
2.    Penelitian Vigostky (1976) melihat bermain mempunyai peran langsung terhadap membutikan adanya suatu hubungan yang kuat antara bermain dan perkembangan kognitif[2], Laural Schmidt anak-anak belajar melalui permainan, bermainan merupakan pekerjaan masa kanak-kanak.[3]
3.    Parten menunjukkan hal itu antara lain dari pola bermain pada  anak, sampa usia tiga tahun anal lebih banyak bermain sendiri (soliter play), baru kemudian mereka mulai bermain sejenis (parallel play), mulai bermain melihat temannya bermain (on-looking play) dan kemudian bermain bersama (cooperative play).
4.    edangkan bagi Comenius pendidikan anak berlangsung sejalan dengan bermain, karena bermain adalah realisasi dari pengembangan diri dan kehidupan anak[4].
5.    ohan Pestalozzi (1746-1827) berpendapat bahwa pendidikan dimulai di rumah, melalui berbagai kegiatan yang dilakukan anak pada waktu bermain dan berbagai pengalaman indera yang dialaminya[5]
6.    Essa bagi seorang anak, bermain adalah kebutuhan, sebagai sarana belajar[6]. Permainan penting untuk perkembangan semua aspek perkembangan anak. Permainan sebagai aktivitas terkait dengan keseluruhan diri anak, bukan sebagiannya, melalui permainan anak mempromosikan serta memperaktekkan penguasaan2 keterampilannya yang mengarahkan perkembangan kognitif anak,  perkembangan bahasa, mengarahkan perkembangan fisik. Membantu anak dalam mengembangkan kreativitasnya. Melalui pengembangn kreativitas peristiwa sosialisasi dan emosi anak juga berkembang, siklus aktivitas seperti itu adalah merupakan kegiatan yang sehat bagi anak-anak.
7.    Saralea beberapa perinsip permaianan berdasarkan prilaku pada saat anak anak bermain, antara lain; permainan itu sesuatu yang menyenangkan, diluar dari peristiwa se-hari-hari, sebagai sarana experiment berbagai hal, terbuka tanpa batas, permainan sesuatu yang aktif dinamis, tidak statis, muncul sebagai aktivitas-aktivitas yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu[7]. Permainan sangat penting artinya bagi setiap anak disegala zaman, memiliki kontek hubungan sosial dan pembelajaran spontan, aktivitas bermain sebagai medium memahami dunia ini secara lebih baik, ekspressif, sebagai sarana komunikasi untuk melakukan pendekatan pendekatan, mengungkap perasaan2 dan pesan-pesan.
8.    Stone (1993). mengatakan bahwa bermain ada di setiap negara, budaya, bahasa, dimana saja anak-anak dunia bermain. Para ahli mendefinisikan bermain sebagai suatu perilaku yang mengandung motivasi berorientasi pada proses yang dipilih secara bebas dan bukan hanya perilaku pura-pura yang berorientasi pada suatu tujuan, kegiatan bermain ini adalah pungsi dari seluruh manusia[8]. 
9.   Stone.menjadi semakin jelas bahwa bermain adalah mutlak menjadi kebutuhan perkembangan anak, karena itu untuk membantu seorang anak mencapai potensinya secara optimal, orang tua harus memastikan bahwa tahun-tahun awal dari perkembangan anak di penuhi dengan kegembiraan[9].
10. Hurlock Anak kecil meniru permainan anak yang lebih besar, yang telah menirunya dari generasi anak sebelumnya.[10] Jadi setiap kebudayaan satu generasi menurunkan bentuk permainan kegenerasi berikutnya. Bermain merupakan kebutuhan manusia sepanjang rentang kehidupan, dalam kultur manapun[11].

11. Beberapa pungsi bermain, antara lain; fungsi imaginatif, Fungsi kebersamaan, fungsi pngembangan kognitif, fungsi berfikir alternatif, Fungsi assosiatif, dan fungsi pengembangan bahasa[12].
12. Hurlock bahwa melalui bermain; ada perkembangan fisik, yakni bermain aktif penting bagi anak untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya, juga sebagai penyaluran tenaga yang berlebihan yang bila terpendam akan membuat anak tegang, gelisah, dan mudah tersinggung[13].
13. Selanjutnya Warner melihat fungsi bermain secara lebih luas bagi pertumbuhan Fisik anak, Perkembangan kognitif, Keterampilan berbahasa, Pertumbuhan psikologis, Ekspressi Emosional, dan Keterampilan sosial[14]
14. tahap-tahap bermain sebagai berikut: Tahap manipulatif, Tahap-simbolis, Tahap eksplorasi, Tahap eksperimen, dan Tahap dapat dikenal.



[1] Stone, opcit, hh 4-5
[2] Stone, Ibid
[3] Schmidt, Seven Times Smarter, 50 Activities, Games, and Projects to Develop the Seven Intelligences, New York, 2001, h 12
[4] Martini Jamaris, Makalah seminar dan Loka Karya Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Menyongsong Kurikulum Pendidikan anak Usia diniBerbasis Kecerdasan jamak di Masa Depan (Universitas Negeri Jakarta. 2004) h. 2
[5] Ibid. h 2
[6] Essa , opcit h 41
[7] Saralea E Chazan, opcit. hh 19-2
[8] Stone. Opcit h 1
[9] Stone, Ibid hal 3
[10] Hurlock, opcit h  322
[11] Musfiroh tadkiroatun,  opcit h 81
[12] Seefeldt Carol, Continuing Issues Early Chilhood Education, (University of Maryland, College Park, 1990) hh 194-200
[13] Hurlock, opcit . h 323

[14] Warner, Play & learn,150 Aktivitas Bermain dan Belajar Bersama Anak (usia 3-6 th), (lih bahasa Pangesti Atmadibrata & Robin Bernadus), Pt Elex Medio Komputindo, 2003) hh viii-xi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar