BERMAIN
1. Stone[1]. ”....Bermain adalah media penting dalam proses berpikir dengan memberikan eksposur terhadap berbagai
pengalaman yang memperkaya pemikiran anak-anak (a). Melatih
kemampuan menghadapi pengalaman dengan cara menciptakan situasi-situasi, model dan menguasai kenyataan
melalui percobaan dan perencanaan (.b) Mengkonsolidasi kemahiran-kemahiran
mental yang baru. c) Berperan mengembangkan pikiran abstrak. (e).
Melatih kreatifitas (f). Mendorong cara memecahkan persoalan
melalui penemuan (g). Berperan penting mengembangkan penjelasan atas sesuatu, Anak-anak menguji coba konsep-konsep dan
memperbaikinya sambil bermain. h).Dapat dipergunakan untuk
menguji konsep-konsep dan memperbaikinya sambil bermain. (i).Pembelajaran probabilities, melalui perilaku
yang diulang-ulang. (j) Adanya korelasi positif antara bermain dan
daya ingat (k) Mendorong perkembangan bahasa (l) Meningkatkan kemahiran
merencanakan, kemampuan-kemampuan akademik
dan bersikap”
2. Penelitian Vigostky
(1976) melihat bermain
mempunyai peran langsung terhadap membutikan adanya suatu hubungan
yang kuat antara bermain dan perkembangan kognitif[2], Laural Schmidt anak-anak
belajar melalui permainan, bermainan merupakan pekerjaan masa kanak-kanak.[3]
3.
Parten
menunjukkan hal itu antara lain dari pola bermain pada anak, sampa usia tiga tahun anal lebih banyak
bermain sendiri (soliter play), baru kemudian mereka mulai bermain sejenis (parallel play), mulai bermain melihat
temannya bermain (on-looking play)
dan kemudian bermain bersama (cooperative
play).
4.
edangkan
bagi Comenius pendidikan anak berlangsung sejalan dengan bermain, karena
bermain adalah realisasi dari pengembangan diri dan kehidupan anak[4].
5.
ohan
Pestalozzi (1746-1827) berpendapat bahwa pendidikan dimulai di rumah, melalui
berbagai kegiatan yang dilakukan anak pada waktu bermain dan berbagai
pengalaman indera yang dialaminya[5]
6. Essa bagi seorang anak, bermain adalah kebutuhan, sebagai sarana belajar[6].
Permainan penting untuk perkembangan semua aspek perkembangan anak. Permainan
sebagai aktivitas terkait dengan keseluruhan diri anak, bukan sebagiannya,
melalui permainan anak mempromosikan serta memperaktekkan penguasaan2
keterampilannya yang mengarahkan perkembangan kognitif anak, perkembangan bahasa, mengarahkan perkembangan
fisik. Membantu anak dalam mengembangkan kreativitasnya. Melalui pengembangn
kreativitas peristiwa sosialisasi dan emosi anak juga berkembang, siklus
aktivitas seperti itu adalah merupakan kegiatan yang sehat bagi anak-anak.
7. Saralea beberapa perinsip permaianan berdasarkan prilaku pada
saat anak anak bermain, antara lain; permainan itu sesuatu yang menyenangkan,
diluar dari peristiwa se-hari-hari, sebagai sarana experiment berbagai hal,
terbuka tanpa batas, permainan sesuatu yang aktif dinamis, tidak statis, muncul
sebagai aktivitas-aktivitas yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu[7].
Permainan sangat penting artinya bagi setiap anak disegala zaman, memiliki
kontek hubungan sosial dan pembelajaran spontan, aktivitas bermain sebagai
medium memahami dunia ini secara lebih baik, ekspressif, sebagai sarana
komunikasi untuk melakukan pendekatan pendekatan, mengungkap perasaan2 dan
pesan-pesan.
8. Stone
(1993).
mengatakan bahwa bermain ada di setiap
negara, budaya, bahasa, dimana saja anak-anak dunia bermain. Para ahli mendefinisikan bermain sebagai suatu perilaku yang mengandung motivasi berorientasi pada proses
yang dipilih secara bebas dan bukan hanya perilaku pura-pura yang berorientasi
pada suatu tujuan, kegiatan bermain ini adalah pungsi dari seluruh
manusia[8].
9.
Stone.menjadi semakin jelas
bahwa bermain adalah mutlak menjadi kebutuhan perkembangan anak, karena itu untuk membantu seorang anak mencapai
potensinya secara optimal, orang tua harus memastikan bahwa tahun-tahun awal dari perkembangan
anak di penuhi dengan
kegembiraan[9].
10. Hurlock Anak kecil meniru
permainan anak yang lebih besar, yang telah menirunya dari generasi anak
sebelumnya.[10]
Jadi setiap kebudayaan satu generasi menurunkan bentuk permainan kegenerasi
berikutnya. Bermain merupakan kebutuhan manusia sepanjang rentang kehidupan,
dalam kultur manapun[11].
11. Beberapa pungsi bermain, antara lain; fungsi imaginatif,
Fungsi kebersamaan, fungsi pngembangan kognitif, fungsi berfikir alternatif,
Fungsi assosiatif, dan fungsi pengembangan bahasa[12].
12. Hurlock bahwa melalui bermain; ada perkembangan fisik, yakni
bermain aktif penting bagi anak untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh
bagian tubuhnya, juga sebagai penyaluran tenaga yang berlebihan yang bila
terpendam akan membuat anak tegang, gelisah, dan mudah tersinggung[13].
13. Selanjutnya Warner
melihat fungsi bermain secara lebih luas bagi pertumbuhan Fisik anak,
Perkembangan kognitif, Keterampilan berbahasa, Pertumbuhan psikologis,
Ekspressi Emosional, dan Keterampilan sosial[14]
14. tahap-tahap bermain sebagai berikut: Tahap
manipulatif, Tahap-simbolis, Tahap eksplorasi, Tahap eksperimen, dan Tahap dapat dikenal.
[1] Stone, opcit, hh 4-5
[2] Stone, Ibid
[3] Schmidt, Seven Times Smarter, 50 Activities, Games,
and Projects to Develop the Seven Intelligences, New York, 2001, h 12
[4] Martini Jamaris, Makalah
seminar dan Loka Karya Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Menyongsong
Kurikulum Pendidikan anak Usia diniBerbasis Kecerdasan jamak di Masa Depan
(Universitas Negeri Jakarta. 2004) h. 2
[5] Ibid. h 2
[6]
Essa , opcit h 41
[7] Saralea
E Chazan, opcit. hh 19-2
[8] Stone. Opcit h 1
[9] Stone, Ibid hal 3
[10] Hurlock, opcit h 322
[11] Musfiroh tadkiroatun, opcit
h 81
[12] Seefeldt Carol, Continuing Issues Early Chilhood Education,
(University of Maryland, College Park, 1990) hh 194-200
[13] Hurlock, opcit . h 323
[14] Warner, Play & learn,150 Aktivitas Bermain dan
Belajar Bersama Anak (usia 3-6 th), (lih bahasa Pangesti Atmadibrata &
Robin Bernadus), Pt Elex Medio Komputindo, 2003) hh viii-xi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar